Jauhi
Perdebatan yang Mencelakakan!
Orang yang suka
berdebat rawan terjangkiti penyakit hati kronis
SUATU saat Yunus bin Bin Abdul
A’la, seorang faqih Mesir terlibatan perdebatan dengan Imam As Syafi’i. Namun
tidak seperti biasanya yang terjadi pada mereka telah terlibat perdebatan,
Yunus tidak marah, bahkan beliau amat terkesan dengan sikap Imam As Syafi’i,
hingga beliau mengatakan, “Aku tidak melihat orang berakal melebihi As Syafi’i,
aku mendebatnya tentang suatu masalah pada suatu hari, kemudian kami berpisah,
lalu dia menemuiku, dan menggandeng tanganku, lalu berkata kepadaku:
“Wahai
Abu Musa, bukankan lebih baik kita tetap berteman walau kita tidak sepakat
dalam satu masalah?’”
Mengenai
sifat mulia Imam As Syafi’i dalam perdebatan Abu Utsman, putra beliau juga
pernah mengatakan: “Aku sekali-kali tidak pernah mendengar ayahku mendebat
seseorang dengan meninggikan suaranya.” (Tahdzib Al Asma’ wa Al Lughat,1/66)
Bahkan
Ahmad bin Kholid bin Kholal juga pernah mendangar sendiri bahwa Imam As Syafi’i
mengatakan, “Ketika aku mendebat seseorang aku tidak menginginkan dia jatuh
kepada kesalahan.(Tawali At Ta’sis, hal. 65)
As
Syafi’i juga berkata: “Aku berdebat tidak untuk menjatuhkan orang” (Tahdzib Al
Asma wa Al Lughat, 1/ 66)
Demikianlah
ulama besar jika berdebat, tidak ada dampak negatif dari perdebatan itu, karena
mereka berdebat untuk mencari kebenaran, bukan untuk merendahkan, mencari atau
mempertahankan pengikut. Mereka tidak berdebat agar dipandang alim (pandai),
serta karena tujuan duniawi lainnya. Sehingga, perdebatannya tetap dalam
koridor adab dan akhlak.
Imam Al
Ghazali sendiri mengumpamakan bahwa orang berdebat seperti orang mencari barang
yang hilang. Ia tidak membedakan-bedakan apakah barang itu ia temukan sendiri
atau ditemukan orang lain yang membantunya. Ia melihat lawan debatnya sebagai
partner, bukan musuh. Ia mestinya berterima kasih jika lawan debatnya
menunjukkan kepadanya kesalahannya, seperti seseorang yang menempuh suatu jalan
untuk mencari barangya yang hilang, namun ada orang lain yang memberi tahu
bahwa ia harus menepuh jalan lain untuk mendapatkan barangnya.
Perdabatan
yang demikianlah yang ditempuh para sahabat, tabi’in dan para imam besar
terdahulu. Umar bin Al Khattab Radhiyallahu `anhu sendiri ketika diingatkan
oleh seorang wanita, saat beliau berkhutbah di hadpan kalayak pun menyatakan
jujur ketika melihat bahwa yang dikatakan wanita itu benar, ”Umar salah, wanita
ini benar!”. Demikian pula Ali Radhiyallahu `anhu menjawab pertanyaan seorang
laki-laki, kemudian ada yang mengkritik beliau, ”Tidak demikian wahai Amirul
Mukminin, namun demikian-demikian.”
Maka
beliau mengatakan,”Anda benar, saya salah.” Sebagaimana juga para sahabat juga
bermusyawarah mengenai hadd bagi peminum khamr dan beberapa masalah dalam
faraidh.
Debat yang menghancurkan
Adapun
perdebatan orang-orang setelah masa para Imam berlalu sudah berubah. Imam Al
Ghazali sendiri mengkritik keras orang-orang sezaman dengan beliau yang
melakukan perdebatan bukan sebagai bentuk kerja sama dalam mencari kebenaran.
Dengan penuh keheranan, beliau mengatakan, ”Lihatlah para pendebat di zaman
kalian ini, bagaimana wajah mereka berubah gelap, jika nampak al haq di lisan
lawannya, sebagaimana juga emosi mereka meluap, lantas berpayah-payah, dengan
seluruh kemampuan untuk menentangnya. Bagaimana ia mencela pendebatnya seumur
hidupnya, kemudian dia tidak malu dengan menyerupakan diri sebagai sahabat
dalam sharing untuk mencari kebenaran.?” (Al Ihya, 1/74)
Debat
demikianlah yang menghancurkan umat Islam sendiri, sebagaimana disebutkan dalam
sebuah hadits,”Tidak ada kaum yang tersesat dari hidayah yang mereka ada di
dalamnya, kecuali didatangkan kepada mereka perdebatan.” (Riwayat At Tirmidzi,
hadits hasan shahih)
Perdabatan
yang bertujuan untuk merendahkan pihak lain, atau menonjolkan diri sendiri
serta mencari dunia, merupakan sumber timbulnya banyak maksiat.
Imam Al
Ghazali menyebutkan beberapa penyakit yang menyerang mereka yang mencampakkan
diri dalam aktifitas ini:
1.
Hasad (iri): Pendebat, terkadang menang atau kalah. Terkadang ada yang
memujinya, terkadang pujian diberikan untuk lawannya. Kondisi semacam ini bisa
menimbulkan rasa hasad pada hatinya, menginginkan agar lawannya kehilangan
nikmat, termasuk ilmu, kesempatan atau nikmat lainnya.
2.Takabbur
dan riya`: Mereka yang suka berdebat dengan tujun menonjolkan diri akan
terjangkit penyakit takabbur. Dia akan berusaha merendahkan lawan debatnya, dan
meninggikan dirinya sendiri di hadapan orang lain. Kadang ia memberikan
pernyataan bahwa lawannya bodoh, tidak paham atau memiliki sedikit ilmu.
Disamping itu, penyakit riya` juga sering menjangkiti mereka, karena ingin
menampakkan apa yang ia rasa sebagai kelebihan kepada manusia.
3. Memuji
diri sendiri: Pendebat sering kali menyanjung dirinya sendiri di saat berdebat.
Kadang ia mengatakan, ”saya menguasa ilmu ini”, “saya hafal hadits ini.” Hal
itu dilakukan untuk mempromosikan apa yang ia sampaikan.
4.
Tajassus (mencari-cari aib): Mancari aurat manusia, sering kali dilakukan
pendebat terhadap lawannya. Terkadang ia mencari informasi sampai ke negeri
dimana lawannya tinggal, untuk mencari hal-hal buruk darinya, yang ia simpan
pengetahuan itu untuk dijadikan bekal menjatuhkannya.
5.
Ghibah: Yang kadang tidak bisa dihindarkan dari pendebat yang didasari niat
yang salah adalah menceritakan dan menyebarkan kelemahan dan kekurangan
lawannya kepada pihak lain, setelah ia melakukan perdebatan dengan seseorang.
6.
Nifaq: Yang dimaksud di sini adalah perbuatan dhahir pendebat yang bertentangan
dengan apa yang ada di dalam hati. Pendebat biasanya basa-basi, memperlihatkan
keramahan dan kegembiraan jika bertemu dengan lawannya, namun sejatinya dalam
hatinya terbesit kebencian yang cukup besar.
Sekarang,
marilah kita cermati kehidupan di sekitar kita. Di kantor, di lingkungan,
bahkan di TV. Paling tidak, marilah kita melihat diri kita sendiri ketika kita
memutuskan untuk berdebat (baik dengan lisan maupun tulisan). Dengan demikian,
kita bisa terhindar dari penyakit-penyakit hati yang cukup membahayakan dirinya
sendiri. *
Rep: Thoriq
Editor: Cholis Akbar
SUMBER : https://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2011/03/14/3527/jauhi-perdebatan-yang-mencelakakan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar